About admin

Serba Serbi Perilaku Dan Persepsi Masyarakat Indonesia

  • September 23, 2020 at 9:14 am
Masyarakat

Masyarakat Isu terkini dan menggemparkan selalu mendapatkan perhatian publik dengan beragam reaksi persepsi dan tingkah lakunya. Termasuk dengan isu wabah virus corona atau Covid- 19 ini. Pada dini tahun 2020 ini bumi diguncang dengan wabah virus corona. Ataupun Covid- 19 yang menginfeksi hampir seluruh negara di dunia. Semenjak Januari 2020, WHO telah menyatakan dunia masuk ke dalam darurat global terkait virus ini.

Ini merupakan fenomena luar biasa yang terjadi di bumi pada abad ke 21, yang skalanya mungkin dapat disamakan dengan Perang Dunia II. Hal ini bisa dilihat dari event-event skala besar, seperti pertandingan-pertandingan olahraga internasional hampir seluruhnya ditunda bahkan dibatalkan. Kondisi ini pernah terjadi hanya pada saat terjadi perang bumi saja. Tidak sempat terdapat suasana lainnya yang dapat membatalkan acara- acara tersebut.

Khusus di Indonesia sendiri Pemerintah telah mengeluarkan status darurat bencana. Terhitung mulai tanggal 29 Februari 2020 hingga 29 Mei 2020 terkait pandemi virus Covid- 19 ini dengan jumlah waktu 91 hari. Langkah- langkah telah dilakukan oleh pemerintah untuk dapat menyelesaikan kasus luar biasa ini, salah satunya adalah dengan mensosialisasikan gerakan Social Distancing. Konsep ini menjelaskan bahwa untuk dapat mengurangi bahkan memutus mata rantai infeksi Covid- 19.

Seseorang harus menjaga jarak aman dengan manusia lainnya minimal 2. Dan tidak melakukan kontak langsung dengan orang lain, serta menghindari pertemuan massal. Tetapi banyak masyarakat yang tidak menyikapi hal ini dengan baik. Seperti contohnya pemerintah sudah meliburkan para siswa dan mahasiswa untuk tidak berkuliah atau bersekolah ataupun memberlakukan bekerja dari rumah.

Kondisi Yang Dimanfaatkan Masyarakat Untuk Berlibur

Namun kondisi ini malah dimanfaatkan oleh banyak masyarakat untuk berlibur. Selain itu, walaupun Indonesia sudah dalam keadaan darurat masih saja akan dilaksanakan tabliqh akbar. Dimana akan berkumpul ribuan orang di satu tempat. Yang jelas bisa jadi mediator terbaik bagi penyebaran virus corona dalam skala yang jauh lebih besar. Selain itu masih banyak juga masyarakat Indonesia yang menganggap enteng virus ini, dengan tidak mengindahkan himbauan- himbauan pemerintah.

Yang harus dipikirkan dan disadari bersama sekarang ini adalah resiko tingkat mortalitas (kematian) akibat hadirnya faktor- faktor penghambat penanganan wabah ini. Salah satu faktor yang dapat memperlambat, bahkan memperburuk penanganan persebaran Covid- 19 adalah anakronisme perspektif yang beredar besar di masyarakat. Yang dimaksud anakronisme perspektif di sini adalah cara pandang yang kurang tepat dalam menyikapi dan merespons persebaran virus ini. Yang pada gilirannya turut menghambat penanganan pandemi Covid- 19 ini.

Di antara sekian banyak anakronisme perspektif yang beredar di masyarakat, sekurangnya ada 2 contoh yang paling mencolok. Pertama, anakronisme sosial- budaya. Sebagaimana dimaklumi, masyarakat kita dicirikan oleh budaya komunitarian-komunalistik (baca suka ngumpul- ngumpul, bergerombol) dalam sebuah unit sosial yang saling berjejaring. Masyarakat kita dikenal memiliki ikatan sosiologis yang kuat melalui pola hidup gotong- royong sebagai bentuk kepedulian dan empati sosial kita kepada sesama. Ikatan sosiologis tersebut seringkali dimanifestasikan melalui sentuhan fisik seperti bersalaman, berpelukan, cium pipi, dan semacamnya.

Pengabaian Terhadap Norma-Norma Sosial

Menghentikan, setidaknya untuk sementara waktu saja manifestasi. Komunitarian tersebut demi mencegah persebaran Covid- 19 tentu saja bukan persoalan mudah bagi masyarakat kita. Tentu saja ada perasaan ganjil, kikuk, serta tidak lazim ketika harus mengabaikan“ ritual sosial” sebagaimana umumnya. Pasti ada sesuatu yang hilang ketika masyarakat kita dipaksa menanggalkan kebiasaan sosial tersebut. Sebab terdapat kontradiksi kognitif antara nalar kesehatan seperti menjaga jarak sosial (social distancing) dengan nalar komunitarian tersebut, yaitu kebiasaan bersosialisasi.

Pengabaian terhadap norma- norma sosial di atas tentu saja dapat menimbulkan gangguan sosial-budaya karena norma-norma tersebut telanjur membentuk gugusan kebermaknaan eksistensial di kalangan masyarakat kita. Dari sinilah sebagian masyarakat kita cenderung mengacuhkan protokol medis pencegahan Covid- 19 sebagaimana dikeluarkan oleh lembaga- lembaga otoritatif. Bagi sebagian mereka, protokol medis dimaknai sebagai upaya mereduksi kebermaknaan sosial yang telah menancap kuat di masyarakat.

Anakronisme kedua adalah konstruksi pemahaman keagamaan masyarakat kita yang berlawanan dengan protokol pencegahan Covid- 19. Melalui beragam media sosial, kita disuguhi berbagai macam narasi keagamaan yang mengacuhkan, mereduksi, bahkan melawan protokol medis pencegahan Covid- 19. Diantara narasi keagamaan yang cukup populer di masyarakat adalah menyangkut teologi kematian sebagai hak prerogatif Tuhan, pandemi Covid- 19 sebagai adzab( hukuman) Tuhan atas dosa- dosa manusia, tidak perlu takut kepada siapapun termasuk kepada Covid- 19, kecuali hanya kepada Tuhan. Social distancing merupakan strategi mendangkalkan kepercayaan, serta berikutnya. Sementara itu jika kita bisa berpikir lebih bijak, memang kematian hak prerogatif Tuhan, ajal sudah ditakdirkan oleh- Nya, tetapi untuk menyikapi pandemi Covid- 19 ini, kita sebagai manusia juga harus berusaha agar tidak terjangkit virus Covid- 19 ini dengan tetap menjaga kesehatan sesuai protokol medis pencegahan Covid- 19.

Tindakan Untuk Penanggulangan

Jika dibiarkan, dua contoh anakronisme perspektif di atas menjadi penghambat penanganan persebaran pandemi Covid- 19 yang pergerakannya semakin liar, masif, dan eksponensial. Wajar saja jika tingkat mortalitas akibat persebaran virus ini di Indonesia termasuk yang tertinggi di Asia Tenggara (8, 46%) akibat kengototan sikap-sikap non- ilmiah tersebut. Sikap semacam ini telanjur menciptakan zona nyaman bagi mereka yang tidak terbiasa dengan pola hidup disiplin dan taat-asas (compliance), dua syarat utama untuk mempercepat penanganan Covid- 19.

Oleh karena itu, dibutuhkan sebuah kerendahhatian dari seluruh elemen masyarakat untuk menyerahkan penanganan pandemi Covid- 19 kepada pihak- pihak yang memiliki otoritas terkait seperti WHO, Kemenkes dan Pemerintah (via Satgas Pencegahan Covid- 19). Selebihnya, lembaga- lembaga non- otoritatif harus tahu diri untuk tidak mengintervensi lembaga- lembaga otoritatif dan memperburuk situasi. Ada sebuah ungkapan populer, jika Anda tidak bisa membantu menyelesaikan masalah maka jangan menjadi bagian dari masalah tersebut. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat tidak membebani negara dalam penanganan Covid- 19. Sekali lagi, jika tidak bisa menjadi solusi, hingga kita jangan menjadi bagian dari persoalan itu sendiri. Mari bersama- sama kita berpikir pintar. Bersikap bijak dan menyelaraskan persepsi untuk mendukung langkah Pemerintah dalam menghadapi dan menangani Covid- 19 ini.